Oleh Zeynita Gibbons

ANTARAJAWABARAT.com,9.8 - Umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa di Inggris pada musim panas tahun ini dihadapkan pada tantangan yang relatif berat, terutama karena waktunya lebih lama ketimbang di Tanah Air, yakni sekitar 18 jam setiap hari.
"Dalam bulan Ramadhan, sebulan penuh kita ditempa untuk tulus dalam berbuat, dan kita diajarkan untuk ikhlas dalam berdedikasi," ujar ustad Irsyad Azizi, dari Al-Azhar University of Cairo.
Menjalani ibadah Puasa di musim panas selain membutuhkan keiklasan tersendiri, juga ketahanan fisik, meskipun udara di Inggris di bulan Agustus sering kali mendung dan bahkan hujan, tidak sepanas di tanah air.
"Saya malah lupa kalau lagi puasa," ujar Idham Ananta, staf pengajar Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA di Universitas Gadjah Mada, yang tengah mengambil program doktoral di School of Computer Science and Electronic Engineering at University of Essex di Colchester, Essex.
Waktu puasa adalah dari terbit fajar (waktu Subuh) sampai terbenam matahari (waktu Maghrib) berdasarkan firman Allah Ta'ala dan sabda Rasulullah SAW. Di Inggris, waktu subuh sekitar pukul tiga dini hari, da magrib sekitar pukul sembilan malam.
Bagi sebagian umat muslim di Inggris, menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan di musim panas yang dimulai tanggal 1 Agustus agaknya tidak menjadi masalah besar, apalagi cuaca di Inggris yang tidak menentu, meskipun musim panas kadang justru cuacanya mendung dan bahkan hujan.
Fitri Adi Anugrah yang pernah bekerja sebagai Project Coordinator di Ontrackmedia Indonesia yang tengah mengambil program Master bidang Human Rights and Cultural Diversity, di University of Essex, Colchester, mengakui puasa pertamanya di musim panas dapat dilaluinya dengan mudah tanpa ada rintangan.
"Saya punya jam kerja malam mulai jam 11 malam hingga subuh, dan setelah itu saya tidur hingga menjelang sholat zuhur dan baru ke kampus yang tidak jauh dari asrama," ujar Fitri.
Sementara itu, mahasiswa ITB yang tengah mengikuti forum London International Youth Science Forum (LIYSF) di London Imperial College sejak 27 Juli hingga 10 Agustus, mengatakan bahwa Allah Maha Baik, dan selalu memberikan kemudahan yang mengiringi kesulitan.
"Panitia LIYSF memperbolehkan kami untuk membungkus jatah sarapan dan makan malam," ujar Ketua delegasi Indonesia ke forum LIYSF, Yosi Ayu Aulia dari Microbiology Undergraduate Program Institute Technology of Bandung (ITB).

Menurut Yosi, puasa ketika musim panas di negeri nonmuslim memberikan pengalaman tersendiri bagi dirinya bersama rekan rekannya dari ITB yang ikut dalam program LIYSF, yang digelar untuk ke-52 kalinya itu.

Dikatakannya yang pasti adalah waktunya panjang sekali, kalau di Indonesia puasa dari pukul 04.30 - 18.00, sedangkan di Inggris dari pukul 03.30 sampai pukul 21.00, atau sekitar 18 jam lebih.
"Apalagi jadwal kami padat dan melelahkan. Tetapi, mudah-mudahan bisa menjadi nilai ibadah di mata Allah," ujar Yosi lagi, yang selama mengikuti program LIYSF ditempatkan di hotel di dekat kampus Imperial Collage London.

Menurut Yosi, waktu sarapan pukul 08.00 dan makan malam 18.30, sementara waktu berbuka masih dua jam lagi. "Namun, petugas di hotel tempat kami menginap memperbolehkan kami membungkus makanan untuk berbuka puasa, sehingga kami tidak perlu lagi membeli makanan di luar," ujarnya.
Yosi mengatakan bahwa kemudahan lain yang diperoleh di antaranya meraka diizinkan menggunakan microwave di dapur untuk sahur. Ketika ada kelas, atau kegiatan yang jatuh pada waktu berbuka, mereka boleh membatalkannya dengan tidak mengganggu peserta lain.
Mengenai suasana puasa, rasanya suasana Ramadhan di Indonesia lebih meriah, sementara di sini suasananya agak lain, karena memang ini bukan negara muslim yang bisa memeriahkan momen Ramadhan. "Kami tentu kangen dengan suasana puasa di tanah air," katanya.
Dikatakannya, peserta lain dari negara muslim seperti Kuwait, Mesir, turut memberikan dukungan moral, dan jadi teman berbagi tentang suasana Ramadhan di masing-masing negara, sehingga kerinduan terhadap Ramdhan di negeri sendiri, bisa terobati.

Sementara itu, Idham Ananta mengakui sekilas orang akan melihat puasa yang dilakukan muslim di Eropa tahun ini, selama kurang lebih 18 jam di musim panas, akan terasa sangat berat.
"Itu pun harus dilakukan di tengah-tengah masyarakat yang tidak berpuasa, dan melihat orang makan minum, berpakaian, dan berperilaku sehari-hari yang dalam beberapa hal tidak nyaman bagi orang berpuasa," ujarnya, menambahkan bahwa di musim panas orang setempat suka buka bukaan di tempat umum sekalipun.
Menurut Idham, semua orang yang berpuasa di Inggris dan pernah berpuasa di Indonesia pasti merindukan suasana Ramadhan di Nusantara.
Di kebanyakan tempat di Indonesia, setiap pagi dan petang melihat orang berbondong bendong berangkat ke masjid, mendengar dan mengikuti tadarus Al Quran setiap hari, menikmati acara televisi Islami, dan banyak pula agenda buka bersama sekaligus silaturahmi. Namun demikian, hal itu tidak menghalangi kaum muslimin di Inggris untuk meraih berkah Ramadhan.
Bagi para pelajar ada kesan yang berbeda ketika berjumpa sesama muslim dari berbagai negara, yang sama-sama berpuasa. Agak unik melihat saudara dari Negara Timur Tengah, yang beraliran Sunni dan Syiah bisa berbuka bersama, ujar Idham lagi.
Ramadhan kali ini di Inggris adalah yang pertama bagi Idham Ananto. "Grogi juga awalnya mendengar durasi berpuasa yang bisa mencapai 18 jam, dengan segala cobaannya," ujarya.
Sehabis sahur dan tadarus sendirian di kamar kos, terasa sekali kesepian di bulan Ramadhan ini. Sepulang dari kampus, masih terasa juga kesepian bulan Ramadan di tempat ini. Untuk itu ia mencari lagu dan video Islami di youtube dan memainkannya hingga tertidur.
Meskipun begitu, tidak disangka, mereka tetap bisa menikmati buka bersama dengan hidangan Indonesia. Terasa sekali berkah Ramadhan di tanah Ratu Inggris ini, ujar Idham yang harus menahan rasa rindu menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga.

Dikatakannya hal yang unik saat berbuka puasa di kampus yang diadakan oleh Islamic society dapat disaksikan umat muslim yang datang dari berbagai negara, seperti dari Eropa, China, dan Afrika.
Belum lagi kehadiran teman teman Melayu dari Indonesia dan Malaysia, turut meramaikan suasana. Beberapa teman nonmuslim pun tidak dilarang bahkan diundang untuk bergabung bersantap bersama, ujarnya.

Agenda buka bersama yang diadakan setiap hari oleh Islamic Society di University of Essex ini seakan menunjukkan Identitas muslim yang sesungguhnya: ramah, saling menghormati, penuh solidaritas, dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar warna kulit, bangsa, aliran politik ataupun status sosial.

A da banyak cara yang dilakukan kaum muslimin di sini untuk meraih berkah Ramadhan seperti buka bersama dan tarawih yang diselenggarakan Islamic Society, beberapa komunitas juga mengadakan tadarus online via Skype, yang tidak sekedar mengejar target jumlah juz yang dibaca, tetapi juga memperbaiki bacaan.
"Saya ikut tadarusan melalui skype yang diadakan oleh rekan rekan dari Malaysia," ujar Rohmatul Fajriyah, yang tengah menyelesaikan Phd di Essex University yang biasa disapa Emma oleh rekan rekannya.
"Ada guru yang akan membetulkan bacaan kita, dan kita pun tidak perlu merasa malu karena yang lain tidak bisa mendengar kecuali guru di seberang sana,"ujar Emma yang belajar di Mathematical Sciences at University of Essexnya.
Sementara itu, masyarakat Indonesia di London mengikuti acara buka puasa bersama yang dilakukan di Wisma Nusantara, kediaman Dutabesar RI untuk kerajaan Inggris Raya dan Republic Irlandia di Bishop Grove, Bishop Avenue, London pada minggu pertama di bulan Agustus.

Lebih dari 250 warga negara Indonesia sejak pukul enam sore sudah mulai berdatangan ke Wisma Nusantara yang terletak di wilayah timur London untuk menjalani acara buka puasa, yang diawali dengan ceramah agama dan tanah jawab.

Biasanya buka puasa dulu, dilanjutkan dengan sholat Magrib baru ceramah, hanya saja karena waktu berbuka pada pukul 20.42, acara buka puasa bersama diawali dengan ceramah dan tanya jawab yang di sampaikan oleh Ustad Irsyad Azizi dari Kairo, Mesir.
Selanjutnya, setiap Sabtu, acara buka bersama dilakukan di gedung KBRI London di Grosvenr Square, ujar Koordinator Pengajian Masyrakat Indonesia London dan sekitarnya, H Herry Sudradjat.
Dutabesar RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republic Irlandia, Yuri Thamrin bersama Ny Sandra Thamrin yang menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama, mengaku senang mendapat kehormatan sebagai tempat pertama acara buka puasa bersama umat Muslim Indonesia yang ada di Inggris, khususnya di London.
Sementara itu, Ustad Irsyad Azizi, yang tengah menyesaikan Master (S2) di Universitas Kairo menyampaikan ceramah tentang pentingnya keikhlasan dalam melaksanakan ibadah puasa.

Apalagi bulan puasa kali ini di wilayah Eropa jatuh di musim panas, yang waktunya lebih lama dari saudara di tanah air, belum lagi sholat isya yang mendekati pukul 12 malam dan waktu imsyak sekitar pukul tiga pagi.
Masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah seperti Colchester, Manchester, Birmingan, Newcastle, dan yang tidak dapat datang untuk berkumpul dan melakukan acara berbuka puasa di KBRI London, melaksanakan acara berbuka bersama sama dirumah salah satu keluarga Indonesia.
Selain itu, ada juga yang menjalani taraweh sendiri sendiri. Masjid di Colchester yang terletak di Priory Street hanya diperuntukkan bagi kaum pria, sehingga kaum wanita melaksanakan sholat taraweh sendiri di rumah.
Tersebarnya umat Muslim Indonesia di berbagai daerah yang umumnya para pelajar dan keluarga yang menikah dengan orang Inggris dan yang telah menjadi penduduk Inggris, sulit untuk melakukan taraweh bersama sama maupun tadarusan.
Keluarga Besar Islam Britania Raya (KIBAR) bekerjasama dengan Muhammadiyah cabang istimewa UK mengelar tadarusan maupun tausiah yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet.

Pengurus KIBAR mengundang warga muslim UK untuk berpartisipasi pada kajian program tausiah online yang diadakan menjelang berbuka puasa, yang di hari ketiga puasa diisi dengan pembicara Ustadz Tri Widayatno.
Pokja Kajian Keislaman KIBAR, Marwan Effendy d,alam keterangannya menyampaikan bahwa yang ingin mengikuti tausiah online diharapkan peserta sudah on-line 10 menit sebelum acara dimulai bertempat di Ruang Maya Skype dengan ID: pengurus_kibar.
Panjangnya waktu puasa yang dilakukan umat Muslim di Eropa, khususnya di Inggris, menurut beberapa ulama setempat, merupakan tantangan tersendiri, namun dengan landasan iman yang kuat, Insya Allah semua itu akan mampu diatasi dengan tulus dan ikhlas. ***6***