Oleh Feri Purnama

ANTARAJAWABARAT.com - Kiai terkenal Abah Anom sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya semasa hidupnya mengajarkan ilmu tentang agama Islam kepada para santrinya selalu mengutamakan tentang berdzikir untuk kebaikan manusia menjadi hidup lebih baik sesuai tuntuan Al Quran dan hadits.

Abah Anon memiliki nama lengkap KH Shohibulwafa Tajul Arifin Ra meninggal dunia pada usia 96 tahun Senin, 5 September 2011 sekitar pukul 11.30 WIB di Rumah Sakit TMC Kota Tasikmalaya.

Sebelumnya Abah Anom tidak dirawat atau terbaring sakit tetapi memiliki riwayat kesehatan mengidap penyakit jantung, Ia tiba-tiba saja merasakan sakit dan dibawa ke Rumah Sakit padahal sebelumnya pernah menerima tamu di kediamannya di Pesantren Suryalaya.

Berdasarkan keterangan para santri Suryalaya, semasa hidup Abah Anom dalam mengajarkan ilmu tentang agama lebih diutamakan kepada santrinya adalah berdzikir.

Berdzikir yang sesuai perintah dalam ajaran Al Quran dan Hadits itu terus digalakkan oleh Abah Anom kepada para santrinya dan masyarakat umumnya yang pernah bertemu dengan Abah Anom.

"Beliau meminta untuk berdzikir itu berdasarkan Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Lagi makan lagi aktivitas apaun harus berzikir," kata salah seorang mantan santri Inabah, Ade RC (38) disela-sela melayat Abah Anom di Pesantren Suryalaya.

Apa yang diucapkan Abah Anom kepada santrinya itu, kata Ade tidak terlepas dari ucapan memerintahkan berzikir agar selalu ingat kepada Allah SWT.

Dzikir yang disarankan Abah Anom itu yakni dzikir hati dan dzikir diucapkan, dzikir hati yang tidak diketahui oleh siapapun melainkan oleh dirinya sendiri yang berucap dalam hati, sedangkan dzikir ucap diucapkan dengan menyebut "La llahaillallah".

"Dengan dzikir setiap waktu kata Abah Anom untuk terus mengingat Allah, sehingga dengan mengingat Allah, ketika mau berbuat jahat itu akan merasa malu sendiri," kata Ade yang sekarang menjadi anggota Polisi di Polres Kabupaten Tasikmalaya.

Keberadaan pesantren Suryalaya itu lebih fokus membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik dengan pembinaan yang dilakukan di pondok Inabah sebagai tempat rehabilitasi manusia yang jauh dari ajaran agama Islam.

Seperti yang dialami Ade semasa mudanya mengaku jalan hidupnya tidak benar dan memiliki niat untuk mendalami ilmu agama Islam agar mendapatkan ketenangan jiwa dan tidak merugikan orang sekitarnya.

Ia menjadi santri Inabah selama dua tahun merasa mendapatkan kekuatan batin dan lahiriah dengan selalu mengingat kebesaran Allah, karena setiap harinya tidak terlepas dari berzikir.

"Saya dulu merasa 'baong' (susah diatur) makanya masuk Inabah Suryalaya, dan saya mendapatkan sesuatu dalam diri saya menjadi lebih baik, yaitu dengan selalu berzikir," katanya.

Ia menceritakan awal mulanya menjalani kehidupan rehabilitasi di pondok Inabah ketika tengah malam pukul 01.00 atau 02.00 WIB oleh pengurus Inabah diminta untuk mandi.

Proses mandi itu selanjutnya sholat malam kemudian berzikir dan shalawatan kemudian melakukan berbagai aktivitas keagamaan lainnya seharian.

Aktivitas mandi malam dan berzikir malam itu, kata Ade terus dilakukan secara berturut-turut hingga menjadi kebiasaan dan ketagihan, karena aktivitas tersebut dinilai baik untuk kesehatan.

"Awalnya memang terpaksa, tapi kesini menjadi biasa, dan itu ternyata membawa kita merasa lebih segar, kita mendapatkan kekuatan ditambah selalu berzikir," katanya.

Sementara itu santri lainnya Wineu Gustianeu (23) warga Kota Cimahi, Jawa Barat, setelah mengetahui Abah Anom meninggal dunia langsung bersama keluarga datang ke Pesantren Suryalaya.

Ia mengaku setiap sepekan sekali selalu datang ke pesantren Suryalaya hanya untuk mengikuti pengajian Uqudul Jumaan yang merupakan berdzikir bersama-sama.

"Almarhum merupakan guru, patut dijadikan soriteladan, beliau selau menyuruh dzikir, sabar dan iklhas dalam menjalani hidup," kata Wineu.

Sementara itu meninggalnya Abah Anom kawasan Pesantren Suryalaya dipadati orang yang datang dari berbagai daerah untuk ikut berdoa bersama mendokan kepergian Abah Anom.

Abah Anom yang disimpan di masjid Suryalaya itu hingga Senin malam belum dimamkaman karena banyanya pelayat yang terus menerus berdatangan. Rencananya Jenazah Abah akan dimakamkan, Selasa (6/9) di komplek Pemakaman Suryalaya.

Sementara itu berdasarkan catatan tertulis riwayat hidup Abah Anom lahir 1 Januari 1951 di Kampung Godebah, Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, dari pasangan keluarga bapaknya Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh dan ibunya Hj Juhriyah.

Semasa hidupnya Abah Anom mengenyam pendidikan umum di Sekolah Dasar Zaman Belanda "Vervoleg School" di Ciamis 1923-1931, kemudian masuk madrasah Tsanawiyah di Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya 1929-1931.

Selanjutnya menambah ilmu agama di Pesantren Cicariang, pesantren Gentur dan Jambudipa Kabupaten Cianjur, kemudian pesantren Cireungas-Cimalati Kabupaten Sukabumi yang mendalami khusus ilmu Hikmat, tarekat, dan ilmu beladiri seperti silat, lalu pesantren Citengah, Kabupaten Ciamis.

Bahkan Abah Anom melaksanakan Riyadoh dan ziarah ke makam para wali atas perintah ayahnya sambil menimba ilmu di pesantren Kaliwungu-Kendal-Jawa Tengah, kemudian di Bangkalan Madura bersama kakak kandungnya H.A Dahlan dan wakil Abah Sepuh KH Pakih dari Talaga, Majalengka.

Selanjutnya menunaikan ibadah haji ke Mekah tahun 1938, kemudian di Mekah memperdalam ilmu Tasawuf dan Tarekat selama tujuh bulan kepada syekh H Romli asal Garut, wakil Abah Sepuh yang bermukim di Jabal Gubeys, Mekah.

Setelah itu Abah Anom membantu bapaknya Abah Sepuh mengajar di Pesantren Suryalaya dan ikut berjuang menegakakan kemerdekaan Indonesia, hingga akhirna diangkat memimpin pesantren Suryalaya dan menjadi wakil Abah Sepuh.

Abah Anom selanjutnya bersama TNI aktif melawan gangguan keamanan yang diakibatkan oleh gerombolan DI/TII dan mendapatkan penghargaan jasa dibidang keamanan.

Selanjutnya Abah Anom aktif membantu pemerintah dalam melaksanakan pembangunan diberbagai bidang seperti pertanian, pendidikan, lingkungan hidup, sosial, kesehatan, koperasi dan politik sehingga banyak menerima penghargaan dari pemerintah.

Kemudian Abah Anom sejak tahun 1980 hingga wafatnya telah mendirikan sebanyak 22 Inabah sebagai panti rehabilitasi remaja korban narkotika dan telah berhasil menyembuhkan banyak para santri binaannya yang tergantung pada narkotika.

Sejak kepemimpinan Abah Anom di pondok pesantren itu cukup banyak dikunjungi berbagai tamu negara Indonesia maupun sejumlah pejabat negara dari berbagai mancanegara.***6***