ANTARAJAWABARAT.com, 26/10 - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kerja sama pembuatan pesawat CN-295 antara PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Airbus Military dapat menandai kebangkitan industri pertahanan Indonesia.

Dalam sambutannya pada acara penandatanganan kerja sama di Kompleks PT DI, Jakarta, Rabu, Presiden menyatakan keyakinannya bahwa industri pertahanan Indonesia dapat bangkit kembali dan memiliki masa depan yang baik.

"Saya bukan hanya sekedar yakin, tapi justru kebijakan kita termasuk solusi terhadap 'financing' dan termasuk pula pemesanan, pembelian, alutsista dari PT DI adalah jalan yang nyata untuk sekali lagi melakukan revitalisasi dan pemajuan industri strategis yang menjadi kebanggaan kita bersama," tuturnya.

Meski telah mengalami berbagai masalah dan tantangan sejak krisis moneter 1997/1998, Presiden mengatakan, PT DI terbukti tetap bisa bertahan berkat kepemimpinan manajemen, bantuan pemerintah, dan juga loyalitas karyawan.

Penandatanganan nota kesepahaman yang disaksikan oleh Presiden Yudhoyono adalah kerja sama produksi, operasional, dan pemasaran antara PT DI dan Airbus Military yang bermarkas di Sevilla, Spanyol.

Dengan adanya kerja sama tersebut, PT DI menjadi satu-satunya produsen sekaligus agen tunggal pemasaran pesawat CN-295 di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman antara PT DI dan Kementerian Pertahanan untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI pada 2014 dengan produksi PT DI.

Presiden pada acara tersebut juga menyaksikan penandatanganan kesepakatan antara Polri dan PT DI untuk pembelian alat-alat produksi PT DI untuk memenuhi kebutuhan Polri.

Menurut Presiden, seluruh nota kesepahaman dan kesepakatan tersebut merupakan peluang yang bisa diraih PT DI untuk kejayaan pada masa depan.

"Ini adalah contoh nyata kerja sama saling menguntungkan dan tentu saja 'benefit real' akan diberikan kepada PT DI yang tentu saja harus kita berikan dukungan penuh," demikian Presiden.

-antara-