ANTARAJAWABARAT.com,4/2 - Cuaca buruk yang terus melanda daerah pesisir utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadikan sejumlah nelayan berhenti melaut sejak dua pekan lalu dan terpaksa menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup yang cukup tinggi.

Rastiman salah seorang nelayan asal Kecamatan Cirebon utara kepada wartawan di Cirebon, Sabtu mengaku berhenti melaut akibat perubahan angin timur ke barat, gelombang laut bisa mencapai empat hingga enam meter kini terpaksa mencari penghasilan lain dengan menjadi pemulung karena kebutuhan hidup setiap hari harus terpenuhi.

Ia menambahkan, mencari barang bekas, seperti botol air kemasan, plasik bekas bungkus makanan ringan, kertas, botol minuman berbahan aluminium, tidak dibutuhkan modal hanya kemauan untuk mengumpulkan barang bekas tersebut selain itu mudah jadi uang.

Penghasilan menjadi pemulung sulit diandalkan, kata dia, karena sekarang tidak gampang mengumpulkan barang bekas, paling satu hari hanya Rp 20 ribu bisa dibawa pulang kerumah, sementara hasil melaut jika cuaca normal bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Menjadi pemulung tidak memerlukan modal dan keahlian, kata dia, yang penting mau keliling mencari barang bekas, selain itu mudah dijual ke bandar rongkos namun kendalanya jumlah pemulung di Pantura Cirebon semakin banyak sehingga persaingan ketat.

Sementara itu Umar nelayan lain di daerah Juntiyuat Indramayu kepada wartawan menuturkan, musim angin baratan nelayan tidak melaut karena gelombang tinggi disertai angin kencang membahayakan keselamatanan mereka biasanya sambil menunggu cuaca normal cari penghasilan lain.

Pendidikan nelayan terbatas, kata dia, sehingga cara mereka mencari penghasilan lain hanya menjadi buruh kasar seperti pemulung, kuli bangunan, tukang beca, kuli angkut dipasar, kesempatan lain yang lebih tinggi sulit akibat terbatasnya kemampuan mereka.

Dedy Aryanto maneger Tempat Pelelangan Ikan Glayem Idramayu menuturkan, cuaca buruk ribuan nelayan di Pantura Indramayu berhenti melaut sehingga aktifitas bongkat muat ikan terganggu, sebagaian nelayan biasanya mencari penghasilan lain menunggu cuaca normal.

Lemahnya kemampuan nelayan Pantura dalam segi pendidikan formal, sehingga kesempatan dalam mencari penghasilan lain terbatas, mereka hanya bisa menjadi pekerja sektor informal, seperti menjadi pemulung, tukang beca, buruh harian lepas, kuli bangunan, tukang ojek, setelah kondisi laut stabil mereka kembali melaut karena penghsailannya mencukupi. ***3***

Enjang S