ANTARAJAWABARAT.com,15/2 - Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) bekerjasama dengan berbagai lembaga nasional dan internasional menyelenggarakan pertemuan "The 2nd Asia Forum on Carbon Update (AFCU) 2012 yang digelar di Kota Bandung, 15-17 Februari 2012.

Kegiatan yang dihadiri oleh 400 peserta, termasuk peserta dari 33 negara itu dibuka oleh Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dari kedutaan besar dan organisasi peduli lingkungan.

Asia Forum Carbon Update merupakan pertemuan tahunan yang bertujuan untuk membagi gagasan, pengalaman maupun pengetahuan mengenai implementasi pembangunan ekonomi rendah emisi karbon.

Serta berbagai upaya mitigasi di negara-negara Asia baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah maupujn non pemerintah.

Beberapa agenda yang didiskusikan dalam pertemuan itu antara lain rangkaian pertemuan substantif pembaharuan kebijakan terhadap perubahan iklim, pembaharuan riset dan teknologi.

Kemudian program, mempertemukan jaringan serta pemaparan pengalaman dan langkah pengurangan emisi karbon yang telah dilakukan di berbagai negara di dunia.

Sedikitnya terdapat 129 presentasi akan dilakukan para pemakalah sepanjang tiga hari pertemuan Asia Forum on Carbon Update 2012 itu antara lain dari Vietnam, Malaysia, Filipina, Bangladesh.

Berikutnya Thailand, Uganda, Kamboja, Amerika Serikat, Mesiko, Australia, Singapura, India, China, Jepang serta dari sejumlah negara di Eropa, Afrika serta sejumlah negara Asia lainnya.

Selain itu hadir pula sejumlah nara sumber dari lembaga donor, ilmuwan serta perguruan tinggi. Lebih dari 15 perguruan tinggi Jepang mengirimkan perwakilannya mengikuti forum yang digelar untuk kedua kalinya itu.

Forum ini mempertemuan berbagai pihak, bertemu dan berkolaborasi membahas satu tema perubahan iklim.

"Ada harapan secara positif. Forum ini bertindak sebagai pasar antara pemilik ide, pemerintahan dan pihak terkait lainnya," kata Sekretaris Pokja Mitigasi Perubahan Iklim Dewan Nasional Perubahan Iklim, Farhan Helmy.

Pertemuan AFCU 2012 tersebut merupakan langkah strategi dalam pencapaian target pengurangan carbon serta membahas dan mengevaluasi proses dan kendala yang ada.

"Perlu ada komitmen bersama dan yang jelas ada aksi ada konsekwensi yang harus ditanggung, namun yang jelas orientasi untuk jangka panjang," kata Farhan Helmy.

Sementara itu sesi pertama pertemuan AFCU 2012 itu mendengarkan pemaparan tentang pengaruh perubahan iklim untuk Asia serta progres program pengurangan emisi karbon.

Sejumlah nara sumber menyampaikan pandangannya yakni mantan Menristek yang mewakili Matsuhita Global Fondation Jusman Sjafii Djamal, Garry Geller (AS), Kohei Nakano (Kota Shimokawa), Dr Tri Wahyu Adi (ITB), Gakushi Ishimura (Hokkaido University), Efransyah (WWF Indonesia).

Jusman menyampaikan pengalaman dan kebijakan perusahaan elektronik ternama di Indonesia dalam mengurangi emisi karbon melalui kebijakan green industries.

"Pengurangan emisi karbon sebuah tuntutan yang tidak bisa dihindari dan komitmen itu harus didukung semua pihak baik pemerintah, industri, ilmuwan dan masyarakat dunia. Semuanya bisa dilakukan dan harus menjadi kebijakan bersama," katanya.

Sementara itu Kohei Nakano dari Kota Shimokawa memaparkan langkah kota kecil di Jepang itu dalam menjaga kelestarian hutannya.

"Luas Shimokawa 64.420 hektar, sekitar 88 persen merupakan kawasan hijau. Prioritas kami menjaga vegetasi hutan kota di tengah pemanfaatan sumber daya dan pengembangan ekonomi," kata Kohei Nakano menambahkan.***2***
(T.S033/B/B008/B008)




Syarif A