ANTARAJAWABARAT.com, 18/4 - Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 diproyeksikan untuk menyandang gelar sebagai "ibukota" dari kedua benua tersebut.

Menurut Dirjen Diplomasi dan Informasi Publik Kementerian Luar Negeri AM Fachir dalam konferensi pers 57 tahun peringatan KAA di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu, sebenarnya ide untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota Asia Afrika itu sudah cukup lama dibicarakan.

"Namun untuk mewujudkannya harus dilakukan secara perlahan dan bertahap karena ini bukan saja merupakan pekerjaan pemerintah tapi juga melibatkan segenap masyarakat," ujarnya.

Menurut Fachir, ide tersebut apabila diwujudkan merupakan proyek besar karena pernah dibicarakan tentang pembangunan suatu kompleks kawasan di Kota Bandung yang akan memajang rumah miniatur dari negara-negara Asia Afrika.

Selain itu, berbagai monumen bersejarah yang berkaitan dengan penyelenggaraan KAA pada 1955 di Kota Bandung juga harus dilestarikan agar Bandung pantas menyandang gelar sebagai ibukota negara Asia Afrika.

"Ini tentu melibatkan gerakan rakyat yang sadar akan kebanggaan mereka terhadap Bandung sebagai lokasi bersejarah, bukan hanya menjadi pekerjaan pemerintah," ujarnya.

Fachir mengatakan ikon Bandung sebagai ibukota Asia Afrika bisa mendatangkan dampak positif bagi ibukota Provinsi Jawa Barat tersebut dari segi investasi bisnis yang bisa ditawarkan kepada negara-negara Asia Afrika maupun daya tarik pariwisata.

Namun, lanjut dia, hendaknya Kota Bandung juga berbenah untuk mengatasi berbagai masalah rutin yang masih melanda seperti banjir dan penumpukan sampah sehingga pantas untuk menyandang gelar sebagai ibukota Asia Afrika.

Sementar itu, Kepala Museum Asia Afrika Isman Pasha menyatakan penyelenggaraan peringatan ke-57 KAA saat ini lebih melibatkan kaum muda agar mereka memiliki kesadaran terhadap pentingnya sejarah.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengibaran bendera 106 negara Asia Afrika dan konvoi drumb band oleh 150 pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bandung.

Setelah itu digelar "Nusantara Model of United Nation 2012" diikuti oleh 170 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memainkan simulasi Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam kegiatan itu para peserta bisa belajar tentang komunikasi efektif dan negosiasi dari perannya sebagai perwakilan suatu negara yang menyampaikan pandangan dan posisinya.

Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sepekan penuh sejak 18 April 2012 hingga 24 April 2012 itu juga diselenggarakan acara diskusi kaum muda dengan nara sumber mahasiswa dari manca negara seperti dari Belanda dan Uganda.

Isman mengatakan Museum KAA juga hendak menularkan semangat kebanggaan sebagai lokasi bersejarah kepada masyarakat Bandung dengan menggelar beberapa acara di ruang publik seperti parade kebudayaan dan panggung kesenian yang berlangsung selama akhir pekan 21-22 April 2012.

diah novianti