PIDATO SOEKARNO PADA PEMBUKAAN KAA AGAR DISIMAK OLEH PEJABAT NEGARA
ANTARAJAWABARAT.com,23/4 - Salah satu saksi sejarah peristiwa Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955, Demin Shen, menyatakan para pejabat negara yang berkuasa saat ini seharusnya menyimak kembali pidato mantan Presiden Soekarno pada pembukaan konferensi tersebut.
Dalam acara bincang-bincang dengan saksi sejarah KAA di Gedung Merdeka, Bandung, Senin, Demin mengatakan banyak pesan Soekarno pada pidato tersebut yang masih relevan dengan berbagai permasalahan bangsa saat ini.
"Banyak pesan dalam pidato yang bersemangat kemerdekaan Asia Afrika itu yang harus didengar oleh pejabat negara yang berkuasa sekarang," ujarnya.
Soekarno dalam pidato di depan pimpinan 29 negara Asia-Afrika pada 1955 menyatakan bahwa kolonialisme sesungguhnya belum mati. Kolonialisme, menurut Soekarno, jangan hanya dilihat dalam bentuk klasik tetapi bisa mengenakan 'baju' modern dalam bentuk penguasaan ekonomi, intelektual, serta penguasaan material yang nyata.
Soekarno juga mengingatkan bangsa-bangsa Asia Afrika agar kemerdekaan tidak hanya diisi secara materi, tetapi juga secara etika dan moral.
Karena, menurut Soekarno, tujuan manusia yang tertinggi adalah pembebasan manusia dari belenggu ketakutan dan kemiskinan yang bisa menurunkan derajat kemanusiaannya.
"Saya kira banyak pejabat negara kita yang malu apabila membaca pidato Bung Karno itu," ujar Demin.
Demin yang saat pelaksanaan KAA berusia 19 tahun dan bertugas menerjemahkan semua dokumen konferensi dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Tionghoa itu mengatakan pejabat agar tidak menjajah rakyatnya sendiri selama berkuasa.
Menurut dia, salah satu bentuk penjajahan kepada bangsa sendiri adalah mahalnya pendidikan sehingga hanya bisa diakses oleh kalangan mampu saja.
"Sehingga sama saja dengan kolonialisme yang waktu itu sengaja membuat rakyat kita bodoh agar terus bisa dijajah," ujar Demin yang ahli bedah dan saat ini menjabat salah satu direktur di Rumah Sakit Rajawali, Bandung, itu.
Acara bincang-bincang dengan saksi sejarah KAA juga menghadirkan Jakcson Leung sebagai pengalung bunga untuk Perdana Menteri China Chou En Lai dan mantan Duta Besar Wisber Loeis yang pada 1955 masih berstatus mahasiswa ikatan dinas Akademi Luar Negeri dan diperbantukan sebagai tenaga protokol.
Wisber mengatakan KAA pada 1955 dapat berhasil dan menyepakati Dasa Sila Bandung yang akhirnya menginspirasi banyak negara di Asia Afrika untuk memerdekakan diri karena didasari oleh toleransi dan jiwa negarawan yang besar dari 29 pemimpin dunia yang hadir kala itu.
Semangat kebersamaan mereka, lanjut Wisber, juga tergolong tinggi karena dapat menyepakati Dasa Sila Bandung secara musyawarah mufakat.
Tekad Indonesia untuk menjalankan politik luar negeri bebas aktif seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, menurut mantan Duta Besar RI untuk Jepang itu, juga sangat tinggi sehingga KAA bisa lancar diselenggarakan di tengah-tengah ketidakstabilan politik dalam negeri dan gangguan keamanan dari DI/TII di Jawa Barat.
***1***
Diah
Top Stories : Politik
BRAGA25
BOEDIONO PENUHI JANJI RENOVASI RUMAH PENGASINGAN SOEKARNO























