ANTARAJAWABARAT.com, 28/4 - Para menteri Jepang dan Asia Tenggara Sabtu sepakat untuk menyelesaikan satu denah perdagangan timbal-balik dalam 10 tahun antara ekonomi ketiga terbesar di dunia dan kawasan yang berkembang pesat.

Keputusan itu dibuat di Tokyo pada pertemuan para menteri ekonomi dari Jepang dan 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), kata pernyataan pers bersama.

Kedua belah pihak sebelumnya telah setuju untuk bekerja ke arah rencana-rencana tersebut ketika mereka bertemu pada Agustus tahun lalu.

Denah perdagangan itu akan disiapkan untuk disetujui pada pertemuan para menteri ekonomi ASEAN dan Jepang di Kamboja pada Agustus, kata pernyataan itu.

Pertemuan ini akan fokus pada bidang-bidang seperti liberalisasi perdagangan, harmonisasi sistem dan mempersempit kesenjangan pembangunan.

"ASEAN adalah basis produksi penting bagi negara kita dan pada saat yang sama adalah pasar dengan pertumbuhan yang luar biasa," kata Yukio Edano, menteri ekonomi, perdagangan dan industri Jepang pada konferensi pers.

"Sangat penting bagi negara kita untuk bergandeng tangan dengan ASEAN guna mengupayakan pertumbuhan ekonomi."
Jepang juga mendukung perjanjian yang diusulkan ASEAN untuk mendorong perdagangan dan investasi, Kemitraan Ekonomi Komprehensif Daerah (RCEP).

Perjanjian itu dipertimbangkan untuk melibatkan 16 negara - negara anggota ASEAN dan "mitra dialog" mereka - yakni Australia, China, India, Selandia Baru, Jepang dan Korea Selatan - dengan total populasi lebih dari tiga miliar jiwa.

RCEP diperkirakan tidak membutuhkan peraturan seperti pengurangan tarif karena mereka berada di bawah Perjanjian Perdagangan Bebas Trans-Pasifik (TPP) yang melibatkan kemitraan sejumlah negara termasuk Amerika Serikat, kata kantor berita Kyodo.

Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan mengatakan tujuannya adalah untuk mengintegrasikan ASEAN "ke pasar global secara mulus tanpa hambatan."

ANTARA