ANTARAJAWABARAT.com , 20/6 - Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Pusat Adi Sasono menyebutkan pemerintah perlu memfasilitasi pembentukan lembaga pengawas Koperasi Simpan Pinjam (KSP) untuk menghindari penyalahgunaan fungsi, wewenang dan operasionalnya.
"Sistem pengamanan sejumlah koperasi sudah bagus, terkoneksi dan terkontrol namun hanya untuk internal. Pengawasan eksternal dari pemerintah atau lembaga lainnya belum ada. Itu perlu dilakukan pasalnya koperasi yang bergerak di sektor itu paling dominan," kata Adi Sasono di sela-sela seminar Koperasi di Kantor Bank Indonesia (KBI) Bandung, Rabu.
Menurut Adi, saat ini koperasi termasuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) pengawasannya ada di Kementerian Koperasi dan UKM. Namun pengawasan secara online belum terintergrasi dan masih terdapat sejumlah kendala.
Adi Sasono menyebutkan, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 35.000 koperasi yang tersebar di seluruh peloksok. Dari jumlah tersebut sekitar 75 persennya bergerak di sektor simpan pinjam.
"Dengan sistem pengawasan yang terintegrasi secara online untuk mengontrol dana keluar masuk dan aktivitas transaksi keuangan lainnya, sehingga bisa mencegah penyelewengan," katanya.
Saat ini, koperasi simpan pinjam hanya memiliki pengawas internal, padahal di sisi lain operasionalnya sudah seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Ia mengaku setuju ada persyaratan khusus untuk koperasi simpan pinjam, salah satunya wajib mengantongi sertifikat dari lembaga keuangan.
Sementara iru Pimpinan Bank Indonesia Bandung Lucky Fathul Azis menyebutkan, koperasi tidak terikat dengan aturan Bank Indonesia, meski beberapa koperasi simpan pinjam saat ini mirip dengan BPR. "Sekarang KSP dengan BPR hampir sama, hanya saja BPR diawasi ketat BI sesangkan KSP tidak. Memang perlu ada sistem pengawasan terintegrasi bagi KSP meski bukan oleh BI," kata Lucky.
Karena tidak ada pengawasan integral, maka KSP cukup rawan risiko dan berbagai masalah keuangan.
"BI siap menjalin kerjasama untuk pembenahan KSP, meski skema nya perlu didiskusikan lagi. Di sisi lain pertumbuhan simpanan baik di BPR maupun KSP cenderung tumbuh secara positif," katanya.
Lucky mengkritisi operasional koperasi simpan pinjam yang sudah mengambil segmen BPR. Menurut dia seharusnya simpan pinjam itu hanya dilingkungan koperas, namun kenyataan di lapangan KSP mengambil nasabah dari luar anggota yang itu sebenarnya segmen pasar BPR.***2***
KOPERASI SIMPAN PINJAM PERLU LEMBAGA PENGAWAS TERINTEGRASI
Top Stories : ekonomi
BRAGA25
SEMANGAT NASIONALISME SANG KIAI Oleh Natisha Andarningtyas























