ANTARAJAWABARAT.com, 28/6 - Penurunan kualitas air Sungai Citarum akibat limbahm sampah dan sedimentasi mengakibatkan peningkatan biaya perawatan PLTA Saguling dan mengakibatkan usia waduk semakin pendek.

"Kualitas air Sungai Citarum sudah sangat menurun akibat sampah, limbah pabrik dan sedimentasi. Kondisi waduk terpengaruh, produksi listrik menurun dan yang jelas biaya perawatan PLTA juga menjadi lebih besar," kata General Manager Indonesia Power Waduh Saguling Eri Prabowo di sela-sela peninjauan ke empat titik Sungai Citarum Kabupaten Bandung, Kamis.

Eri menyebutkan, biaya perawatan PLTA Saguling dalam setahun mencapai Rp70 miliar, khusus perawatan akibat limbah industri saja mencapai Rp1 miliar. Limbah industri yang merusak itu juga ikut mempercepat proses korosi turbin bila tidak ditangani serius.

Di sisi lain, sejumlah industri khususnya TPT di kawasan Bandung Selatan banyak yang membuang limbahnya langsung ke Sungai Citarum tanpa melalui proses IPAL yang standar.
Salah satunya yang ditinjau tim dari Indonesia Power, Pemerhati Lingkungan serta insan pers di kawasan Balekambang Majalaya dimana ditemuka sebuah saluran pembuangan limbah dari tiga pabrik di kawasan itu.

"Produksi listrik dari PLTA Saguling sedikit terkoreksi pada 2012 yang diperkirakan mendapai 2.764 giga watt hour (Gwh) dibanding 2012 sebesar 2.800 Gwh," katanya.

Produksi listrik Indonesia Power sanga tergantung pada debit air di waduk, dimana air waduk itu mengandalkan dari aliran Sungai Citarum yang saat ini tingkat sedimentasinya sudah sangat mengkhawatirkan.

"Akibat sedimentasi muka air waduk cepat menyusut, berdasarkan perhitungan kami rata-rata pasir yang masuk ke Saguling sekitar 4,2 kubik per detik, belum lagi sampah yang masuk dan tertahan di catching area yang mencapai 10 ton per hari," kata Eri Prabowo.

Sementara itu Manajer Komunikasi Indonesia Power, Luthfi menyebutkan, pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi revitalisasi Sungai Citarum dan penegakan aturan terkait pemanfaatan air sungai itu.

"Dengan kondisi kerusakan dan limbah Sungai Citarum, kami diharapkan dengan ancaman kerusakan mesin dan turbin lebih awal dari kemampuan semestinya," kata Luthfi menambahkan.

Sementara itu pemantauan lapangan terhadap kondisi pencemaran Sungai Citarum akibat limbab pabrik dilakukan di Sungai Gempol di Balekambang Kabupaten Bandung yang bermuara ke Sungai Citarum. Air selokan itu berwarna coklat kehitaman dan terkadang berwarna ungu akibat limbah pabrik yang dibuang tanpa melalui IPAL.

Penyusuran dilakukan selain di kawasan industri Majalaya juga dilakukan di daerah tangkapan sampah atau cathcing area di kawaan Nanjung Kabupaten Bandung, kawasan Saguling dan di Pembangkitan Listrik Saguling.***3***