Antarajawabarat.com, 10/2 - Buku Burung Burung Cakrawala, karya Mochtar Pabottingi, 2013, membawa ingatan kepada kuatnya lagu Tanah Airku dan Rayuan Pulau Kelapa menanamkan kecintaan pada Indonesia.

Dalam lagu karya Ibu Sud dan Ismail Marzuki tersebut digambarkan betapa Indonesia adalah negeri tempat kembali setelah menjelajahi negeri-negeri mashyur.

Begitu pula bagi Mochtar Pabottingi, Indonesialah negeri tempat dia selalu pulang setelah berkelana ribuan kilometer ke Amerika Serikat walau tawaran untuk menetap di negeri impiannya itu menggoda batinnya.

Mochtar Pabottingi dikenal sebagai peneliti politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jauh sebelum itu, dia menghasilkan puisi dan cerpen yang disiarkan di sejumlah penerbitan utama.

Dalam autobiografi terbitan Gramedia Pustaka Utama itu, secara lugas dan argumentatif, Mochtar bercerita panjang lebar mengenai pergulatan batinnya ketika harus memilih kembali ke Indonesia atau menetap di Amerika Serikat setelah studinya di negeri makmur itu selesai.

Dengan gaya Gollum, makhluk aneh di "The Lord of The Ring", dia berdialog dengan batinnya sendiri. "Kamu akan menyesal." "Tidak. Aku tidak akan menyesal." "Kamu takkan tahan di Indonesia. Keadaannya runyam dan banyak yang tak beres di sana." Begitu sebagian dialog batinnya.

Ada dua tulisan yang memberatkan hatinya ketika dia memutuskan untuk kembali ke tanah air, yaitu "Si Anak Hilang" Sitor Situmorang dan "Si Malin Kundang" Goenawan Mohammad.

Awalnya, dua tulisan itu bagi Mochtar merupakan contoh pengelana sejati. Pengelana yang tidak akan pulang, seperti akhir dari puisi "Si Anak Hilang": Malam tiba ibu tertidur//Bapak lama sudah mendengkur//Di pantai pasir berdesir gelombang//Tahu si anak tiada pulang.

Secara panjang lebar Mochtar bercerita mengenai pergulatan batinnya soal dua tulisan ini. Tulisan yang menguatkan jiwa pengelananya yang terbina sejak dia masih remaja dan menjadikan bentangan laut di Pantai Losari, Makassar, sebagai tempatnya melarikan diri dari keresahan.

Tapi Mochtar adalah pembaca segala. Dia tahu keragaman dan kekayaan Indonesia. Bukan hanya keragaman suku dan kekayaan alamnya, tapi juga kekayaan dan keragaman pemikiran tokohnya.

Dia ingat Rendra yang berkata, "Di tiap negara ada penjara."

Ketika itu Rendra ditawari untuk menetap di AS. Iming-imingnya, di AS, Rendra akan lebih leluasa berkarya. Sedangkan pada 1960-an ketika itu, pemerintah orba, menurut Mochtar, sedang doyan memenjarakan orang-orang berpikiran merdeka dan kritis.

Dia juga ingat banyak tokoh negeri ini yang mendahului dia pergi ke negeri jauh, seperti HB Jassin, Budi Darma, Romo Mangun, hingga NH Dini. Bagi Mochtar, mereka itu ibarat flamingo, yang terbang menjelajahi cakrawala dan selalu kembali ke sarang tempat mereka tumbuh.

Dari pengalaman masa kecilnya, masa remaja, hingga pergulatannya pada pemikiran para intelektual Indonesia itu, dia pun membeberkan pertanyaan sendiri mengenai tulisan Sitor dan Goenawan Mohammad itu.

Bagian ini memperlihatkan kemampuan Mochtar sebagai penganalisis yang kuat. Dia melontarkan fakta, kemudian melemparkan pertanyaan, dia berikan analisis berdasarkan fakta lain, dan mengambil kesimpulan. Ada kebebasan berpikir, kemerdekaan melontarkan pendapat, dan kesantunan yang diperlihatkan Mochtar.

Hal itu juga memperlihatkan perbedaan buku biografi Mochtar dengan banyak biografi lain. Buku Burung Burung Cakrawala bukan sekadar bercerita kisah hidup sang penulisnya, tapi juga buah pikiran Mochtar yang hidup berbarengan dengan perkembangannya.

Layaknya dalam buku ilmiah, Mochtar menuliskan pandangannya mengenai pemikiran banyak ilmuwan, misalnya mengenai pemikiran Nurcholis Madjid. Itu ketika dia dibenturkan oleh kenyataan kakunya pandangan Muslim asal Timur Tengah yang dia temui di "Islamic Centre" di Hawaii.

Ada peristiwa yang menggetarkan kebiasaan toleransi Islam Indonesia, yang tertanam dalam hati Mochtar, ketika itu. Sebagai intelektual, yang terpapar banyak pemikiran dan pengalaman toleransi, dia pun menguraikan pemikirannya yang tidak bisa menerima sikap kaku yang diperlihatkan mahasiswa asal Timteng itu yang tidak mau berjabat tangan dengan orang tak seagama.

Sikap ekstrem itu membuat Mochtar bersikap ekstrem pula: dia tidak mau lagi berkumpul di "Islamic Centre".


Jujur
Mochtar menyatakan bahwa dia menyukai Amerika sama dengan dia menyukai Indonesia. Itu jawaban yang disampaikan Mochtar saat ditanya oleh seorang petinggi sebuah universitas tempatnya belajar. "Aku menyukai dua-duanya...."

Lontaran yang jujur dari Mochtar bukan hanya ketika dia melontarkan kesukaannya itu. Sejak awal tulisannya, ketika dia masih seorang anak kampung, begitu dia menjuluki dirinya sendiri, ada kejujuran yang polos dalam setiap ceritanya.

Kejujuran itu pula yang terlihat ketika dia mengatakan bahwa Mochtar seumur hidup berutang budi kepada mayoritas rakyat Amerika yang pajaknya membiayai lembaga-lembaga yang memberikan dia beasiswa.

Rasa cinta itu juga beriringan dengan analisisnya yang mengatakan, sejak tahun 1950-an Amerika makin lama makin kerap mengkhianati semangat dari prinsip-prinsipnya sendiri dalam "The Declaration of Independence".

Pergulatan batin Mochtar sebelum kembali ke Indonesia merupakan puncak ketegangan dari sekian banyak ketegangan yang ada dalam biografi yang ditulis sebagai sebuah novel itu.

Kisah masa kecilnya, tentang keluarga, tentang kegiatannya berkesenian yang berseberangan dengan orang-orang komunis pada masa remaja, hingga kehidupan Yogyakarta yang menguatkan keindonesiaannya, adalah ancang-ancang mencapai puncak itu.

Akhirnya, bagi Mochtar, pengelanaannya di Amerika selama 10 tahun tak mengubahnya sebagai "anak kampung". "Bagiku, Tanah Air adalah kumulasi kampung." Dan, itulah Indonesia.

Keahlian Mochtar sebagai penulis puisi dan penulis cerpen bercampur baur dengan keahliannya sebagai peneliti yang jago menganalisis. Cerita dia tentang kesukaannya bermain layangan saat di Barebba, di ujung paling selatan Sulawesi Selatan, sama ringannya dengan dengan cerita dia mengenai pergulatannya dengan pemikiran sejumlah ilmuwan.

Kejagoannya bermain kalimat efektif membuat kota kelahirannya, Barebba, di Sulawesi Selatan, nyata keindahannya. Begitu juga Waikiki, Hawaii, tempat Mochtar mengajak bermain anak-anak dan istrinya ketika dia kuliah di sana.

Daya ingat yang kuat dan kelihaian Mochtar menulis juga menghadirkan ketegangan ketika dikejar seorang suami Bugis karena istrinya secara tak sengaja terkena lontaran batu dari ketapel yang dimainkan Mochtar remaja.

Ketegangan yang kuat juga hadir ketika Mochtar terjebak di tengah salju sepulang membeli pempers di sebuah toko di Amherst, Massachusetts.

Dua peristiwa itu, bagi Mochtar, bisa saja menjadi akhir hidup lelaki yang kini dikenal luas sebagai cendikiawan terkemuka itu.

Jika itu terjadi, tak mungkin ada kisah panjang perjalanan hidupnya yang penuh warna.

Jika itu terjadi, tentu saja Mochtar tidak bisa bercerita perkenalannya dengan Nahdia, gadis keturunan Minang yang menjadi istrinya.

Perjalanan kisah cinta dengan Nahdia-lah yang menjadikan autobiografi Mochtar berjalan sebagai novel sesungguhnya. Bagian Nahdia tersebar di banyak tempat di novel itu, menghadirkan kegenitan, keharuan, dan keliaran.

Mochtar juga tidak pelit bercerita tentang percintaannya dengan sang istri. Ada adegan orang dewasa dalam novel ini, yang juga ditulis dengan indah.