Antarajawabarat.com,22/9 - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengingatkan agar para orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan pada anak-anak dalam berkendaraan yakni dengan melarang anak-anak di bawah umur menggunakan kendaraan bermotor di jalan raya.

"Oleh karena itu sosialisasi safety ridding ini diharapkan dapat menggugah masyarakat untuk lebih berhati-hati," kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, di Bandung, Minggu.

Ia menuturkan, risiko yang paling menonjol kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh perilaku manusia seperti kelalaian penggunaan helm, sabuk pengaman, kecepatan tinggi, dan ugal-ugalan di jalan.

Dikatakannya, moda transportasi roda dua mendominasi tingginya angka korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Ironisnya, jenis kendaraan inilah yang paling digemari masyarakat.

Untuk itu pihaknya mengajak semua pihak termasuk klub motor berpartisipasi turut mendukung mengkampanyekan Jabar Kondusif, bagaimana menggunakan kendaraan bermotor dengan meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat Dedi Taufik dalam sambutannya mengemukakan, sosialisasi keselamatan berlalu lintas dilaksanakan memperhatikan fenomena kecelakaan lalu lintas didominasi kendaraan roda dua, oleh karena itu Pemerintah Provinsi Jabar berupaya meminimalisir risiko tersebut.

"Langkah Pemprov Jabar yang menyerahkan helm kepada perwakilan beberapa komunitas sepeda motor, OSIS, Pramuka, Paskibra secara gratis adalah bukti kepedulian dan berkat partisipasi pemangku kepentingan terutama insan perhubungan yang bergerak di sektor transportasi sehingga terkumpul 3200 helm SNI," katanya.

Dikatakan Deddy, pihaknya berharap masyarakat secara bertahap dapat memahami arti penting keselamatan berkendaraan.

"Kalau dicermati, kecelakaan lalu lintas pada umumnya disebabkan oleh empat faktor yaitu faktor manusia, faktor kendaraan, faktor prasarana jalan, dan faktor lingkungan," kata dia.

Dari keempat faktor tersebut faktor manusialah yang menempati urutan teratas dengan angka berkisar 80-90 persen dan hanya 10-20 persen disebabkan oleh kondisi sarana dan prasarana serta faktor lingkungan.***4***

Ajat S