PAKAR: TEKNOLOGI BETON DIKENAL SEJAK ZAMAN TARUMANEGARA
ANTARAJAWABARAT.com,2/6 - Kompleks Percandian Batujaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menunjukkan masyarakat Kerajaan Tarumanegara pada abad enam Masehi ternyata sudah mengenal teknologi beton dalam pembangunan.
Dalam diskusi "Kompleks Percandian Batujaya Sebagai Salah Satu Warisan Dunia" di Universitas Padjadjaran,Bandung, Sabtu, T Bachtiar dari Masyarakat Geografi Indonesia mengatakan teknologi beton tanpa tulang itu diterapkan untuk mengeraskan lapisan lantai dan bagian-bagian lain dari candi yang membutuhkan pengerasan.
" Ini penemuan yang tidak boleh disepelekan karena menunjukkan teknologi beton sudah dipakai pada masa Kerajaan Tarumanegara 1.500 tahun yang lalu," ujarnya.
Teknologi beton tanpa tulang yang diterapkan pada candi tersusun dari bata itu menggunakan campuran batu kerikil sebesar kelereng yang menghasilkan adukan sangat kuat.
Teknologi yang sama, menurut Bachtiar, baru ditemukan lagi 1.400 tahun kemudian pada berbagai bangunan kolonial di Bandung seperti sebuah benteng di kawasan Gunung Pari, Lembang.
"Jadi ini sebuah kebanggaan karena teknologi beton sudah ada terlebih dahulu pada masa kerajaan Tarumanegara dan baru ada lagi setelah rentang waktu yang sangat jauh selama 1.400 tahun," ujarnya.
Selain teknologi beton, kata Bachtiar, maka kerajaan Tarumanegara juga mengenal teknik plester seperti yang diterapkan pada bangunan masa kini karena lapisan candi yang terbuat dari bata dilepas dengan lapisan stuko yang cukup tebal.
Teknik pembakaran
Dengan penggunaan plester untuk melapisi candi yang cukup banyak, Bachtiar menjelaskan, pada masa itu tentu sudah ditemukan teknik pembakaran kapur yang baik.
"Pada zaman itu tentu sudah ada ahli yang tahu tentang sumber bahan untuk lepa dan sudah ada ahli yang bisa mengolah bahan bangunan untuk candi," ujarnya.
Bahan baku kapur untuk pembangunan kompleks candi Batujaya yang terdiri atas 30 situs tersebar di kawasan seluas 500 hektare itu, menurut Bachtiar, berasal dari wilayah Batugamping, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang.
Batu kapur dialirkan melalui Sungai Ci Beet yang kemudian menyatu dengan Sungai Citarum untuk sampai di Batujaya sejauh 62 kilometer.
Bachtiar menduga Kerajaan Tarumanegara saat itu sudah memiliki banyak ahli perencana pembangunan yang baik dengan teknologi yang maju pada zamannya.
Bahan baku bangunan yang terbuat dari bata, bukan dari batu, juga menunjukkan keunggulan teknologi pada masa yang sangat tua.
Bata merah yang menyusun candi dicampur dengan sekam padi guna menghasilkan pembakaran yang baik. Kebutuhan sekam padi untuk pembangunan kompleks candi yang luas menimbulkan dugaan bahwa kompleks candi Batujaya merupakan bagian dari suatu kota pelabuhan yang telah berkembang pesat.
Penemuan gerabah dari India dalam penggalian di kompleks candi itu juga menunjukkan masyarakat Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan perdagangan internasional pada abad ke-6 masehi.
Kompleks percandian Batujaya diperkirakan dibangun pada abad enam Masehi pada masa kerajaan Tarumanegara. Candi tersebut merupakan bangunan suci pertama dan terbesar bagi Umat Budha karena Borobudur baru dibangun pada abad ke-8. ***3***
Diah
COPYRIGHT © 2010 ANTARAJAWABARAT
PubDate: 22/May/2013 09:18